Modernisasi Ritel Mikro di Indonesia: Awal Pergerakan ke New Retail yang Beda

Konsep new retail lahir dan terus berkembang di Cina. Kalimat ini identik dengan proses modernisasi bisnis konvensional (terutama entitas pengecer/ritel) yang selama ini hadir di tengah-tengah masyarakat.

Hans Tung, Managing Partner dari GGV Capital, dalam tulisannya menjelaskan bahwa new retail lahir sebagai istilah bagi pelaku bisnis yang mulai memanfaatkan teknologi untuk mendigitalkan atau mengautomasi kegiatan offline, di mana sebagian besar transaksi komersial masih terjadi.

Dalam perkembangannya, terminologi ini berkaitan erat dengan upaya online-to-offline (O2O), di mana bisnis terkait menerapkan perbaikan terhadap sistem operasional agar lebih data driven, terutama lewat penggunaan aplikasi mobile. 

Meski implementasi new retail belum seluas dan sepopuler di Cina, para pelaku bisnis di Indonesia sedikit demi sedikit mulai bergerak mengadopsi konsep semacam ini dengan caranya sendiri. Mulai dari penerapan aplikasi, penyamarataan konsep brand, dan lain-lain.

Adopsi aplikasi untuk menjembatani proses transaksi

Upnormal | Featured

Di Indonesia, pemanfaatan aplikasi sudah menjadi cara yang cukup lumrah digunakan pelaku bisnis untuk menginjakkan kaki ke konsep new retail.  Warunk Upnormal misalnya, ritel makanan saji yang bernaung di bawah payung Citrarasa Prima (CRP) Group tersebut, beberapa waktu lalu juga mulai melirik pembaharuan konsep semacam new retail lewat pemanfaatan aplikasi mobile sebagai touch point transaksi pemesanan makanan di sejumlah lokasi restorannya.

Menurut Corporate Communication CRP Group, Sarita Sutedja, pertimbangan sejumlah faktor, seperti efisiensi dan kemudahan transaksi, menjadi alasan mengapa aplikasi mobile kerap digunakan. Walau belum diterapkan secara menyeluruh, namun CRP Group optimis pendekatan dengan cara new retail bisa menjadi investasi bermanfat bagi pengembangan bisnisnya di masa mendatang.

“Secara nominal (transaksi) saat ini mungkin belum sebanding dengan (kemudahan) customer experience yang dirasakan. Namun bagi kami yang penting sekarang kita sudah memulai eksekusinya.”

Selain Warunk Upnormal, hal serupa juga diterapkan oleh pemain ritel minuman lain seperti Anomali Coffee yang turut menerapkan sistem pemesanan berbasis aplikasi. Di belakang samping Anomali ada juga beberapa startup pemesanan minuman kopi siap saji seperti Fore Coffee, Koppi, dan Kopi Kenangan yang saat ini tengah bersaing merebut hati konsumen.

Dikutip dari wawancara dengan Edward Tirtanata selaku Founder Kopi Kenangan, penerapan konsep new retail bukan semata soal menciptakan sistem transaksi jual beli secara digital. “Ada aspek-aspek lain yang juga harus dipenuhi, seperti jumlah toko yang memadai, produk yang dapat diterima masyarakat, serta sistem dan tim yang memadai untuk melayani ribuan pesanan,” ujarnya.

Bagi Edward, penerapan konsep new retail oleh pelaku bisnis setidaknya harus memiliki skala distribusi yang sesuai. Hal ini perlu dipertimbangkan karena akan sangat sulit membuat ekosistem new retail yang mendukung jika tidak diimbangi pola distribusi sesuai.

New retail yang mencakup pengembangan SDM

Di Indonesia sendiri, konsep new retail juga dimanfaatkan sebagai model bisnis yang diterapkan beberapa startup tertentu. Umumnya pelaku startup “modernisasi ritel” yang membidik pemain mikro semacam ini tidak serta merta hanya fokus kepada pemanfaatan teknologi dan aplikasi saja. Tetapi juga bisa kepada standarisasi operasional agar mendukung bisnis secara keseluruhan. Standarisasi operasional yang dimaksud bisa melalui penataan konsep, branding, dan berbagai upaya lainnya.

Menurut penjabaran Tung, memindahkan sebagian kecil fungsi e-commerce menjadi offline adalah separuh dari upaya penerapan new retail. Bagian setengah lainnya lagi adalah bagaimana merancang penjualan produk yang lebih indah dan diproduksi secara cepat.

Hal semacam ini bisa dilihat dari strategi startup lokal seperti Wahyoo. Mereka menargetkan warung makan atau warteg sebagai ranah penerapan konsep new retail miliknya.

Peter Shearer selaku CEO Wahyoo kepada Tech in Asia menjelaskan bahwa salah satu inti dari pengembangan fokus startup tempat ia bekerja adalah pengembangan SDM kepada mitra new retail mereka. Lewat pengembangan SDM sebagai pilar utamanya, otomatis beberapa faktor lain dapat terbantu hingga dapat meningkatkan pendapatan warung terkait.

“Kami di Wahyoo memiliki program P3K. Yaitu Pelatihan, Pembimbingan, Pendapatan, dan Kemudahan. Warung yang bekerja sama dengan Wahyoo kami bimbing agar bisa bersaing, baik secara operasional maupun sumber daya manusianya”

Dengan mengedukasi pemilik warung agar lebih profesional, Wahyoo berusaha melakukan pendekatan yang berorientasi kepada pembentukan kualitas orang. Oleh karena itu mereka memprioritaskan SDM mitra warung agar mereka tidak kalah saing dan bisa mendayagunakan teknologi, seperti aplikasi kasir dan mobile app, untuk berkembang menghadapi kebutuhan.

Wahyoo sendiri saat ini telah berkembang mencapai lebih dari tiga ribu anggota “warung makan kekinian” yang tersebar di sekitar Jabodetabek. Pencapaian ini masih belum seberapa, mengingat di Jakarta sendiri terdapat lebih dari 35.000 warung yang bisa mengantongi omzet dari penjualan hingga ratusan piring setiap hari. Oleh karena itu, Peter berambisi bisa menggaet paling tidak 15.000 mitra warung Wahyoo di masa mendatang.

Benang merah bernama “layanan finansial”

Ada hal menarik yang bisa digarisbawahi terkait startup pelakumodernisasi ritel” di Indonesia, yaitu implementasi layanan keuangan atau finansial kepada mitra bisnis mereka. Kehadiran modernisasi pelaku bisnis mikro ini seolah menjadi jembatan ketersediaan produk permodalan yang selama ini belum bisa diakses kalangan bawah.

Layanan finansial ini umumnya berupa pemberian modal bagi mitra bisnis untuk mempercepat laju kembang usaha mereka di sektor terkait. Entah itu warung makan (Wahyoo), toko kelontong (WarungPintar, Mitra Bukalapak), dan lainnya.

Layanan jenis ini muncul karena dorongan kebutuhan permodalan yang diinginkan para mitra bisnis startup new retail tersebut. Setidaknya itulah alasan yang melatarbelakangi munculnya layanan finansial bagi Warung Pintar.

Startup yang mengemas warung tradisional dengan teknologi modern, aplikasi mobile, dan analisis data bagi pengembangan bisnis itu, tengah mempersiapkan layanan permodalan yang sebelumnya sulit dijangkau bagi pelaku bisnis kelontong.

Menurut Agung, layanan finansial muncul karena dorongan kebutuhan pengguna layanan new retail di Indonesia. Di mata instansi keuangan seperti perbankan, sebagian pelaku warung kelontong dinilai kurang layak mendapatkan pinjaman. Karena itu pihaknya berupaya membantu penyaluran modal, terutama untuk mitra yang memiliki rekam jejak jelas dan kredibel.

“Market Indonesia (bagi kebutuhan layanan finansial) sangatlah besar. Tentunya dibutuhkan peran semua pihak untuk mendorong perekonomian ini salah satunya dengan membukakan akses yang sama bagi semua orang, termasuk pemilik warung agar dapat ikut bertumbuh.”

Senada dengan Warung Pintar, layanan serupa juga diberikan Wahyoo yang turut memberikan bantuan permodalan bagi pengusaha warteg yang menjadi mitra. Pinjaman finansial yang diberikan Wahyoo dan Warung Pintar umumnya ditujukan untuk meningkatkan kapabilitas bisnis mitra terkait, mulai dari kebutuhan alat operasional seperti kompor, kulkas minuman, dan lainnya.


Meski tampak sebagai hal baru, proses implementasi konsep new retail dalam bentuk modernisasi layanan bagi pelaku ritel dan bisnis kalangan mikro di Indonesia masih panjang untuk bisa semaju Cina.

Kemajuan dalam penerapan konsep new retail sendiri bukan hal yang tidak mungkin, mengingat tingkat adopsi uang elektronik seperti GO-PAY dan OVO sudah mulai berkembang pesat di sektor mikro.

  • Share:

ARTIKEL TERKAIT

0 COMMENTS

LEAVE A COMMENT